Evakuasi yang tidak terorganisir dapat menyebabkan cedera, kepanikan, dan kerusakan dari properti perusahaan. Untuk itu diperlukan adanya perencanaan tindakan darurat dalam menghadapi bencana yang terjadi dan mensosialisasikan prosedurnya melalui gladi resik yang dilakukan. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengembangkan rencana tindakan darurat tersebut antara lain sebagai berikut :
- Kondisi saat evakuasi memang dibutuhkan untuk dilakukan
Beberapa kondisi yang diperlukan untuk melakukan proses evakuasi adalah saat keadaan darurat atas bencana yang terjadi baik akibat dari alam, peralatan, maupun kesalahan manusia. Adapun keadaan tersebut diantaranya seperti gempa bumi, angin topan, tornado, banjir, kebakaran, pelepasan, bahan beracun, kecelakaan radiologi dan biologis.
- Kondisi dan lokasi tempat yang terbaik sebagai titik kumpul
Titik kumpul adalah kawasan yang digunakan untuk tempat berkumpulnya para korban, demi menghindari kejadian bencana yang terjadi. Titik kumpul ini harus merupakan daerah yang cukup luas, dekat dengan jalan, bisa berupa sebuah ruangan maupun tempat terbuka.
Titik kumpul diusahakan dibuat lebih dari satu, yaitu untuk menghindari bencana banjir dan bencana lainnya. Jika pabrik berhubungan dengan bahan-bahan kimia dengan kemungkinan berbahaya, maka dibuat titik kumpul yang steril dari bahan kimia berbahaya.
- Rangkaian arahan yang jelas untuk menuntun para korban menuju titik kumpul
Saat melakukan proses evakuasi para korban akan mengalami kepanikan, dan hal itu tidaklah bagus. Maka untuk menghindari hal tersebut, saat melakukan proses evakuasi, diharapkan memiliki orang yang memberikan arahan komando kepada para korban, sehingga proses evakuasi dapat berjalan dengan lancar tanpa kendala dan hambatan. Pemberi komando ini diusahakan merupakan orang terlatih atau memiliki pengetahuan dalam hal menangani situasi dan kondisi saat terjadi bencana.
- Rambu penunjuk jalur evakuasi pabrik atau gedung yang terlihat jelas dengan dilengkapi dengan penerangan yang cukup

Berikan rambu penunjuk jalur evakuasi pabrik atau gedung dengan jelas terlihat dan dilengkapi penerangan yang cukup memadai sepanjang jalur evakuasi. Rambu tersebut dapat berupa tulisan maupun tanda khusus seperti pembatasan jalur evakuasi menggunakan cat berwarna tertentu.
- Jalur evakuasi yang sesuai dengan standar untuk proses evakuasi yang tanpa penghalang dan pintu keluar darurat.
Sebagai penunjang proses evakuasi agar dapat berjalan lancar, maka untuk jalur evakuasi minimal dibuat selebar 1.2 meter dengan ketinggian minimal 2.5 meter atau bisa dilalui oleh dua orang secara beriringan dengan leluasa. Selain itu juga sepanjang jalur evakuasi harus terbebas dari berbagai macam benda penghalang, benda berbau tajam, benda mudah terbakar, benda pecah belah dan benda penghalang lainnya.
- Prosedur evakuasi
Seorang pengawas bertanggung jawab untuk memeriksa kantor, kamar mandi, dan ruangan lainnya sebelum menjadi orang terakhir yang keluar dari daerah bencana seperti kebakaran. Dan mereka diberi tugas untuk memastikan pintu api dalam keadaan tertutup rapat dan gedung sudah terbebas dari orang. Beberapa orang pengawas ini harus memiliki kemampuan dalam menghadapi situasi bencana dan terlatih serta hafal denah pabrik dan rute jalur keluar terdekat dan tercepat yang bisa ditempuh.
- Prosedur setelah evakuasi
Setelah proses evakuasi dilakukan, setiap pengawas memberikan laporan mengenai keadaan pabrik dalam lingkup tanggung jaawb mereka masing-masing. Laporan ini pun nanti akan ditinjau oleh pimpinan dan melakukan evaluasi total. Untuk beberapa karyawan yang masih tertinggal di dalam ruangan saat bencana terjadi, maka dibuatkan laporan mengenai sebab tertinggalnya karyawan tersebut, karena seluruh pengusaha menginginkan seluruh karyawannya selamat dari bencana.