Anda mungkin pernah terkejut melihat wanita merokok di tempat umum. Apa yang ada dalam pikiran Anda? Bagaimana Anda melabelkan perempuan perokok tersebut?

Culture shock semacam ini biasanya dialami oleh mereka yang sebelumnya tinggal di kampung atau desa pelosok kemudian merantau di kota besar. Bukannya tidak mungkin wanita merokok di kampung halaman, hanya saja tidak terang-terangan. Tidak seperti laki-laki yang bebas merokok di mana saja. Wanita biasanya merokok di tempat yang tidak terlalu banyak orang untuk menghindari tatapan sinis atau judge yang secara tidak langsung dialamatkan padanya.

Wanita Perokok: Tabu dan Dicap Nakal

 

wanita merokok keren

Masyarakat masih menganggap negatif para wanita yang merokok. Stigma nakal dan tidak beretika masih melekat dalam pikiran masyarakat di Indonesia. Padahal rokok sendiri tidak mengenal gender. Tidak ada pula undang-undang yang mengatur larangan merokok bagi wanita. Namun rasa terkejut tidak bisa disembunyikan bagi mereka yang hidup dalam pola asuh konservatif. Di kampung halamannya mungkin tidak pernah menjumpai wanita perokok, sehingga rasanya aneh melihat kaum hawa menghisap tembakau yang dilinting di dalam kertas.

Sementara itu, di kota besar mulai banyak wanita yang berani merokok di tempat umum. Meski himbauan dilarang merokok tersebar di mana-mana, rokok seakan tidak bisa lepas. Banyak yang memberikan alasan bahwa rokok dapat menyegarkan pikiran dan membantu mendapatkan jalan keluar. Padahal jika merokok secara berlebihan, pada akhirnya akan merusak diri sendiri serta merugikan orang lain di sekitarnya. Faktanya, asap rokok lebih berbahaya bagi perokok pasif dibandingkan perokok aktif. Sudah banyak kasus mengenai kanker yang diderita perokok aktif. Padahal mereka hanya menghirup udara hembusan rokok, tidak menghisap nikotin tersebut

Baca juga : Kenali Penyakit Serius yang Diterima Perokok Pasif Ini Agar Tidak Lagi Menyepelekannya.

Selain tabu dan nakal, perempuan perokok biasanya dianggap tidak mempunyai harga diri oleh lingkungan masyarakat sekitar. Apalagi perokoknya adalah perempuan berjilbab, sudah pasti stigma negatif akan berkembang lebih jauh. Maka, nilai agama adalah jawaban atas stigma yang biasanya dialamatkan pada wanita perokok. Terutama di kampung halaman, di mana unsur keagamaan masih dijunjung tinggi demi mencetak generasi penerus yang lebih baik.

Di kota besar sendiri, stigma tersebut tidak terlalu dipedulikan. Mereka paham adalanya himbauan dilarang merokok, tetapi cukup tahu diri untuk tidak ikut campur urusan orang lain. Orang-orang di kota besar sudah disibukkan dengan masalah masing-masing, sehingga rasanya tidak perlulah menjadi unsur ketiga pada masalah orang lain. Hingga terkadang rokok dijadikan salah satu alternatif untuk menjernihkan pikiran dari masalah sehari-hari. Rasa acuh di kota besar membuat wanita perokok mulai berani menunjukkan eksistensinya. Rokok tidak lagi seputar kopi dan laki-laki. Kita bisa menemukan wanita merokok dengan bebas di kafe atau tempat makan, meski perbandingannya tidak sebanyak laki-laki. Tatapan sinis dan judge negatif mungkin masih ada, namun orang lain lebih memilih untuk diam.

Walaupun begitu, masih ada perempuan yang masih memilih tempat dan situasi untuk merokok. Bagi mereka, merokok bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dinikmati sendiri. Lagipula mereka masih enggan mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sosial masyarakat, masih enggan mendapat tatapan rendah atau terkejut terutama dari orang-orang yang baru pertama kali melihat seorang wanita merokok.

Bagaimana pun juga, rokok masih identik dengan kelelakian bagi masyarakat Indonesia. Rokok masih seputar nongkrong, kopi, dan lelaki. Bagi mereka, wajar jika lelaki perokok sedikit nakal atau tidak beretika. Namun tidak bagi wanita. Wanita itu harus lembut, sopan, suci, dan sebagainya. Bagi masyarakat, tidaklah pantas seorang wanita menjadi perokok aktif.