Indonesia hingga saat ini masih memegang urutan tertinggi sebagai negara yang aktif dalam mengkonsumsi rokok, hal ini pun terbukti dari pendapatan negara Indonesia paling besar perkapitanya berasal dari rokok. Di Indonesia, merokok adalah hal yang lumrah bahkan cenderung bebas serta tidak menghormati orang-orang yang tidak merokok sehingga wajar saja di Indonesia perokok bisa ditemukan di mana saja, bahkan di kendaraan umum. Selain itu perokok di Indonesia pun menyerang kalangan-kalangan kritis seperti anak-anak yang terbawa pergaulan dewasa. Fenomena rokok di Indonesia memang cukup kompleks, bahkan walaupun peringatan mengenai dilarang merokok sudah disosialisasikan cukup masif, perokok di Indonesia masih saja tinggi dan masih belum kunjung tertib.

Baca juga : Tiga Pengusaha Rokok Ini Tidak Merokok, Simak Alasannya!

Lalu mengapa rokok masih saja dikonsumsi di Indonesia, padahal informasi mengenai kesehatan yang terancam akibat merokok sudah disosialisasikan dengan sangat luas. Salah satu alasan yang paling sering ditemui dari para perokok adalah mereka tidak dapat berhenti merokok karena rokok mampu mendatangkan inspirasi.

Rokok Mendatangkan Inspirasi! Fakta Atau Sugesti Belaka?

Apakah Benar Rokok Dapat mendatangkan Inspirasi?

Jika dilogikakan dengan sangat cermat, pada dasarnya tidak ada hubungan antara rokok dan inspirasi. Keduanya keluar dari dua hal yang berbeda sama sekali. Lalu mengapa rokok dianggap mampu mendatangkan inspirasi?

Ada dua pandangan mengenai hubungan antara rokok dan inspirasi. Pandangan pertama dari Dokter Gamal yang merupakan Ketua Ikatan Dokter Indonesia wilayah Kota Depok mengatakan bahwa rokok dan inspirasi tidak ada hubungannya sama sekali. Hubungan rokok dan inspirasi diciptakan dari sugesti, bukan alasan medis dan dengan alasan ini aturan dilarang merokok menjadi aturan yang masuk akal untuk dipatuhi demi kesehatan.

Namun pandangan kedua justru kontradiktif dengan pandangan pertama, di mana dokter Agus mengatakan pada temu media di Kementerian Kesehatan bahwa informasi mengenai inspirasi dan rokok ada hubungannya, yaitu karena dopamin yang merupakan hormon bahagia yang keluar karena perokok mengkonsumsi nikotin mampu meningkatkan imajinasi penghisapnya.

Dopamin yang diproduksi oleh tubuh saat merokok juga menciptakan rasa bahagia sehingga wajar saja jika perokok berat sulit sekali lepas dari rokoknya. Namun baik itu dokter Gamal maupun dokter Agus keduanya sepakat dalam kesimpulan bahwa apapun reaksi yang ditimbulkan dari rokok, tetap saja rokok memupuk berbagai penyakit di dalam tubuh.

Jika kita telaah dengan lebih seksama mengenai fenomena sosial tentang rokok yang terjadi, daripada reaksi dopamin, orang-orang menganggap datangnya inspirasi dari merokok justru karena sugesti yang mereka ciptakan sendiri, sugesti yang telah mengakar dalam tubuh masyarakat sehingga siapapun yang baru mencoba rokok, Ia akan berusaha mensugesti dirinya bahwa rokok mendatangkan isnpirasi, sekalipun saat pertama mencobanya Ia terbatuk-bantuk.

Fenomena ini terjadi karena stigma di dalam masyarakat telah membentuk bahwa siapapun yang merokok, Ia akan terlihat lebih jantan dan maskulin sehingga mereka berusaha dengan keras menciptakan sugesti datangnya inspirasi tanpa merokok. Stigma ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk kepentingan sosial saja, tanpa menghiraukan peringatan dilarang merokok yang jelas mengancam kesehatan perokok.

Rokok selain mengancam kesehatan penghisap maupun orang-orang di sekitarnya juga mengancam kelestarian lingkungan. Hal ini dikarenakan masyarakat terbiasa membuang filter rokok sembarangan tanpa menyadari bahwa filter rokok tidak dapat didegradasi oleh alam. Kini hampir 80% sampah yang tersebar di seluruh penjuru bumi penuh dengan filter rokok, bahkan jika Anda tahu beberapa hiu dan kura-kura yang mati karena memakan sampah tidak lain dan tidak bukan sebagian dari sampahnya adalah filter rokok. Seharusnya kita sudah mulai peduli.