Antara kecanduan dan kebiasaan, merokok biar bagaimanapun disepakati sebagai aktivitas merugikan sehingga sebetulnya memaklumi mereka yang aktif menikmati aktivitas ini bukanlah sesuatu yang bijak. Sebagai sebuah kebiasaan seorang perokok pada awalnya hanya coba – coba. Mungkin karena rasa penasaran pribadi atau karena hanyut dalam pergaulan seseorang menjadi tertarik untuk mencicipi sebatang rokok.

Sayangnya setelah “masa peracobaan” tersebut berakhir kebanyakan diantara mereka jadi ketagihan. Barulah kemudian aktivitas menghisap asap ini menjadi suatu kebiasaan. Kita sebut begitu karena selanjutnya seorang perokok punya waktu – waktu tertentu yang mengharuskannya merokok. Contohnya seperti saat mereka selesai makan, menikmati segelas kopi, kelelahan bekerja, hingga ketika mereka merasa pikiran sedang buntu.

Berdasarkan pengamatan kami sebagai kontributor laman blog Gosign.co.id yang sudah sering membuat tanda dilarang merokok untuk para pengelola gedung umum, para perokok cenderung melakukan kebiasannya itu tanpa peduli dimana dan dengan siapa mereka berada. Terbukti dari semakin banyaknya permintaan akan signage tersebut. Itu menunjukan mayoritas perokok harus selalu diberi peringatan agar tidak merokok seenaknya di sembarang tempat.

 

Pandangan Keliru di Kalangan Perokok

Tanpa bermaksud menyinggung anda yang termasuk pecinta produk olahan tembakau ini, apakah anda sadar bahwa tindakan semacam itu sangat mengganggu kenyamanan? Semua orang sebagai makhluk hidup yang perlu bernafas punya hak mendapatkan udara segar nan sehat demi kelangsungan hidup.

Jika menurut para perokok meski mereka menghirup udara bersamaan dengan asap rokok saat bernafas juga tetap membuat mereka hidup hingga detik ini, tapi apakah itu menyehatkan? Mungkin mereka akan menjawab kesehatan mereka pun baik – baik saja.

Baiklah, tak mengapa. Akan tetapi pandangan tersebut hanya boleh berlaku untuk kondisi tubuh mereka sendiri. Lain ceritanya jika sudah melibatban kesehatan orang lain. Sudah tak perlu disangkal lagi asap rokok terutama yang sudah dihisap dan dikeluarkan kembali oleh seorang perokok penuh dengan kandungan zat berbahaya. Jadi sangat tepat dikatakan bahwa itu adalah polutan udara karena asap dapat mengkontaminasi udara. Udara yang sudah tercemar ini akan tersebar akibatnya orang – orang non perokok akan terdampak resiko dari berbagai zat toksin dalam kandungan asap rokok.

 

Menelaah Kebiasaan Merokok Sebagai Bentuk Kecanduan

Menurut kami kecenderungan orang  merokok di waktu – waktu yang kami sebutkan contohnya di atas lebih disebabkan oleh sugesti dalam dirinya. Maksudnya begini, ketika menikmati secangkir kopi dimana para perokok juga akan menyulut sebatang rokok maka sebenarnya mereka melakukan itu tanpa sadar atau reflek saja. Saat ada kopi disitu juga harus ada rokok, itulah sugesti yang tertanam dalam pikiran bawah sadar mereka. Akibatnya jika sebatang rokok tidak hadir menemani kopi maka mereka selalu merasa ada yang kurang.

Memang harus kami akui juga sugesti dari kebiasaan ini bukan sekedar pola pikir biasa yang tertanam akibat suatu tindakan dilakukan secara kontinu. Namun lebih dari itu, ada sebuah candu yang diderita para perokok. Candu atau ketergantungan terhadap rokok pada dasarnya muncul dari keberadaan zat nikotin di dalam sebatang rokok.

Saat asap rokok masuk ke dalam paru – paru, maka zat ini akan diserap oleh tubuh dan dengan cepat menjalar ke otak. Sesampainya di pusat komando tubuh tersebut nikotin akan mempengaruhi dopamin sehingga bisa memicu mood bagus dirasakan oleh si perokok.  Efek inilah yang mengakibatkan siapapun yang mengkonsumsinya berpotensi kecanduan.

Ada ciri – ciri yang menandakan seseorang telah kecanduan nikotin rokok, antara lain:

  • Mulai terbiasa membeli rokok.

Ketika seseorang telah kecanduan maka mereka pun akan mulai terbiasa membeli rokok. Bagi mereka sudah tak masalah lagi untuk mengeluarkan uang karena memandangnya sebagai kebutuhan.

  • Masih merokok meski tidak enak badan.

Tanpa peduli lagi dengan kesehatan tubuh, orang yang kecanduan tetap akan menghisap asap rokok walau sedang sakit sekali pun.

  • Muncul efek sakaw bila menahan diri untuk tidak merokok.

Kecanduan nikotin rokok sama halnya dengan kecanduan zat aditif lainnya. Jika pecandu mencoba menghentikan asupan dari zat tersebut maka ia akan mengalami sakaw, yakni kendala mental maupun fisik. Contohnya, insomnia, cemas, putus asa, ingin banyak makan, dan sebagainya.

Jika orang tersebut telah mengkonsumsi rokok sejak sekian lama maka boleh jadi dopamin selalu meminta jatah nikotin agar bisa menciptakan perasaan senang. Kondisi ini tentu memperihatinkan sebab kebanyakan orang hanya tahu cara mendapatkan nikotin adalah dengan merokok, walau pun kini nikotin sudah bisa didapatkan dengan cara yang agak lebih menyehatkan seperti dengan mengonsumsi permen bernikotin. Cara semacam ini pun menjadi alternatif jika anda ingin berhenti menghisap asap rokok.