Jika kita kembali menengok ke belakang sebetulnya sejak tahun 2014 pemerintah kita sudah lebih getol dalam mengkampanyekan aturan dilarang merokok sembarangan. Terlihat dari upaya mereka yang secara tidak langsung dilakukan melalui perombakan desain bungkus rokok. Setikanya pada awal tahun 2015 lalu dengan tegas peringatan “Merokok Membunuhmu” mulai tercantum pada tampilan kemasan rokok. Tak hanya itu saja, bisa kita saksikan juga iklan rokok di televisi kini hanya boleh ditanyangkan setelah lewat pukul 21.00 WIB. Sudah begitu pada iklan tersebut peringatan bahaya paling mengerikan dari rokok tadi pun terlulis secara gamblang.

Sayangnya sebagian besar perokok atau mereka yang tertarik dengan produk tembakau tersebut seolah tak kunjung mengerti bahwa negara kita sedang berharap seluruh lapisan masyarakat menghentikan atau paling tidak meminimalisir budaya merokok. Di samping itu juga banyak pihak yang menyarankan pemerintah menghentikan peredaran rokok tetapi, saran ini hanya memunculkan dilema.

Dilema terkait aturan peredaran rokok memang sangat rumit. Rasanya akan sulit sekali bagi pemerintah Indonesia untuk menghentikan kegiatan jual – beli rokok. Hal ini disebabkan produk olahan tembakau ini sudah menjadi semacam kebutuhan di masyarakat kita. Bila peredarannya dimatikan secara total maka dikhawatirkan muncul dampak – dampak buruk yang tidak diinginkan.

Apalagi jika kita ingat bahwa candu rokok yang dihentikan tiba – tiba dapat mengakibatkan si pecandu mengalami gangguan psikis seperti gelisah, stress, dan sebagainya. Boleh jadi pemerintah bisa menawarkan langkah penanganan terhadap mereka namun butuh upaya yang sangat besar sekali karena negara kita sangatlah luas dan termasuk negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.

 

Kebiasaan Merokok Faktanya Dimulai Dari Usia Pelajar

Genarasi muda yang merupakan generasi penerus bangsa adalah harapan terbaik kita untuk mewujudkan bangsa sehat yang terbebas dari bahaya rokok. Namun alih – alih kita dapat berharap demikian, keadaan generasi muda kita juga sedang terancam. Khususnya kalangan pelajar yang usianya belum mencapai 18 tahun.

Di lingkungan kita masing – masing dengan mudahnya dapat kita jumpai sejumlah pelajar seperti siswa SMA yang tengah asik nongkrong di pinggir jalan sembari menghisap asap rokok dan bercengkrama dengan asiknya di antara kepulan asap tersebut. Mirisnya lagi kita melihat mereka masih berseragam. Padahal seharusnya mereka saat itu fokus belajar dan mengembangkan wawasan serta kemampuan mereka di bangku sekolah.

 

Baca Juga: Kampanye Positif Dilarang Merokok

 

Tidak hanya siswa SMA saja bahkan kalangan pelajar dengan usia yang lebih muda lagi yakni siswa SMP dan siswa SD pun juga termasuk banyak yang mulai mengkonsumsi rokok. Betapa memprihatinkannya kondisi semacam ini. Sebagaimana kita ketahui rokok sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Ketika mereka sudah merokok sedari usia belia bisa kita banyangkan berapa besar resiko penyakit mematikan yang mereka himpun di dalam tubuh hingga dewasa nantinya.

 

Latar Belakang Pelajar Merokok

Latar-Belakang-Pelajar-Merokok

Kalangan pelajar yang berada pada kategori usia anak – anak hingga remaja akhir memang sedang dalam masa dimana seorang individu sedang aktif mencoba berbagai hal. Kebiasan merokok yang mereka lakukan pada dasarnya berawal dari sekedar coba – coba.

Akan tetapi sebelum mereka mulai mencoba sesuatu tentu ada pemicu awal baru kemudian muncul ketertarikan akan suatu hal. Dapat kita akui bahwa terdapat anggapan yang memandang rokok mampu meningkatkan rasa percaya diri, seorang perokok akan terlihat lebih keren, dengan merokok banyak ide – ide cemerlang bermunculan di pikiran, dan sebagainya. Anggapan ini tentu tidak bisa dibenarkan sebab semuanya sebatas sugesti belaka.

Sayangnya anggapan tersebut kadung tersebar di masyarakat kita hingga anak – anak dan remaja pun mendengarkannya lalu menjadikan mereka penasaran. Bahkan karena mereka sedang mencari jati diri akhirnya mereka memutuskan untuk mengkonsumsi rokok dan berharap dapat memudahkan mereka membentuk karakter menuju kedewasaan. Oleh sebab itu mari kita hentikan pembicaraan tentang anggapan yang terkesan sebagai manfaat rokok tersebut. Merokok sama sekali tidak bermanfaat! Mari kita bantu pemerintah menyadarkan masyarakat akan bahaya mematikan rokok.

 

Lingkungan Sekolah Bebas Rokok

Lingkungan sekolah ialah tempat dimana anak – anak dan remaja menghabiskan mayoritas waktu mereka sehari – hari. Melihat kenyataan banyak siswa masih berseragam yang dengan santainya merokok tentu memunculkan pertanyaan, “Bagaimana peran yang telah diberikan lingkungan sekolah?”. Terlepas dari semua kalangan seharusnya mencegah para pelajar merokok lingkungan ini paling tidak adalah tempat yang paling berperan dalam membentuk kesadaran remaja akan buruknya kebiasaan merokok.

 

Baca Juga: Larangan Merokok Ketika Berkendara Di Jalan Raya

 

Keberadaan guru yang merupakan seorang perokok menjadi kekhawatiran tersendiri. Bagaimana tidak? Profesi ini adalah semacam tokoh teladan bagi para siswa. Orang Jawa bilang Guru itu singkatan dari  “Digugu lan dituru” artinya ditaati dan dicontoh.

Jadi guru tidak boleh sekedar mendidik hanya dengan perkataan. Dengan begitu agar lebih meningkatkan kesadaran para siswa dan menjadikan mereka melihat merokok bukanlah sesuatu yang baik maka guru pun seyogyanya tidak merokok. Jika demikian barulah seorang guru menjadi contoh bukan hanya memberi contoh.

Kemudian pihak sekolah ada baiknya bekerja sama dengan seluruh elemen masyarakat di sekitarnya untuk ikut turun tangan. Khususnya bagi warung – warung yang menjajahkan rokok untuk tidak menjualnya kepada para siswa. Lagipula memang aturan pemerintah kita dengan jelas melarang untuk menjual / memberikan rokok kepada anak di bawah usia 18 tahun.

Ketika upaya – upaya pencegahan di lingkungan sekolah sudah dilaksanakan dengan baik maka jadilah lingkungan ini sebagai kawasan yang benar – benar terbebas dari rokok. Semoga dengan begitu generasi muda kita yang sedang menimba ilmu tidak menderita akibat efek buruk merokok.