Berkonsentrasi saat mengendarai sebuah kendaraan entah itu mobil ataupun motor merupakan hal wajib bagi setiap pengendara. Bahkan sekarang ini sudah ada aturan yang menetapkan dilarang merokok ketika berkendara. Ketentuan ini sama juga halnya dengan larangan mendengarkan musik ketika berkendara.

Untuk larangan mendengarkan musik ketika berkendara memang masih menjadi pro dan kontra di masyarakat. Akan tetapi untuk larangan merokok saat berkendara lebih banyak masyarakat yang kini mulai setuju dengan hal tersebut.

Bahkan Ketua Umum Road Safety Association ( RSA ) yaitu Ivan Virnanda, mengatakan jika dirinya sangat sering mendapatkan keluhan dari sejumlah pengendara. Terutama para pengendara roda dua yang mendapatkan dampak buruk dari aktivitas merokok yang dilakukan pengendara lainnya saat berkendara di jalan.

Abu rokok yang tertiup angin tentunya dapat menerpa wajah pengendara yang berada di belakangnya. Tidak hanya abu rokok saja, bahkan bara rokok yang masih menyala bisa juga terbawa angin sehingga lebih berbahaya bagi pengendara lainnya. Oleh karena itu Ivan menjelasakan tentang etika berkendara yang baik. Dia menjelaskan jika di jalan raya itu kita tidak sendiri, ada banyak pengendara lainnya yang mempunyai hak dan kewajiban sama saat berkendara.

Kini polisi juga memberikan seruan lebih lantang terkait soal larangan merokok ketika berkendara. Alasannya sama, saat berkendara semua orang memerlukan konsentrasi penuh yang bertujuan agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan seperti misalnya kecelakaan.

Hal tersebut juga telah ada di dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 106 Ayat 1 yang mengatakan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan di jalan raya wajib mengendarai kendaraannya dengan penuh konsentrasi dan masih dalam batas wajar.

Ini juga dibahas dalam pasal 283 yang berbunyi, setiap orang yang mengemudikan kendaraannya di jalan raya secara tidak wajar dan sembari melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh sebuah keadaan yang dapat mengakibatkan terganggunya konsentrasi dalam mengemudi bisa dikenakan pidana yaitu hukuman kurungan paling lama 3 bulan atau dikenakan denda paling besar 750.000.

Dengan adaanya aturan tersebut banyak baragam reaksi yang diungkapkan para netizen. Berbagai komentar pro dan kontra pun bermunculan, bahkan tidak sedikit juga yang mempertanyakan alasan dari adanya aturan itu dan polisi juga dituduh telah memberikan aturan yang terlalu mengada-ada.

 

Selain Merokok, Mendengarkan Musik Juga Akan Dikenakan Sanksi

Selain Merokok, Mendengarkan Musik Juga Akan Dikenakan Sanksi

Setelah adanya aturan dilarang merokok ketika berkendara dengan ancaman denda senilai Rp 750.000, ternyata mendengarkan musik ketika berkendara juga akan dikenakan sanksi. Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto menjelaskan jika kebiasaan ini adalah sebuah bentuk pelanggaran yang ancaman hukumanannya juga tidak main-main. Merokok, mendengarkan musik atau radio dan/atau sejenisnya terutama bagi pengemudi kendaraan roda 4 ini melanggar UU Nomor 22 Tahun 2009 dengan Pasal 106 ayat 1 tentang peraturan lalu lintas.

Di dalamnya disebutkan jika sedang mengendarai kendaran haruslah dengan wajar dan penuh konsentrasi. Penjelasan penuh konsentrasi tersebut adalah orang yang sedang mengendarai memberikan fokus penuh dan tidak tergangu perhatiannya. Entah itu karena sakit, lelah, mengantuk, memakai telepon atau juga menonton video yang terpasang pada kendaraannya.

Bahkan pada pasal 283 yang sudah kita bahas tadi menyebutkan jika aturan itu sampai dilanggar, maka pelanggar akan dikenakan sanksi dengan denda sebesar 750 ribu atau ancaman kurungan kurang lebih selama 3 bulan.

Namun jika memang aturan mendengarkan musik ketika berkendara itu dilarang dan ada di dalam Undang-Undang yang dapat menyebabkan tergangunya konsentrasi, lalu untuk apa adanya fitur audio mobil yang sudah tentu disediakan oleh para produsen mobil ?

Padahal fitur audio sendiri memang sering digunakan para pengendara khusunya pengendara roda empat untuk mengusir rasa bosan dan penat ketika berkendara, terlebih lagi jika kondisi jalanan sedang macet. Bahkan tidak sedikit juga yang menggunakan fitur audio mobil ini untuk mengusir rasa kantuk ketika harus berkendara setelah seharian bekerja.

Maka dari itu untuk aturan yang satu ini masih belum jelas karena masih banyak pro dan kontra dari masyarakat itu sendiri. Jika memang aturan tersebut harus tetap diberlakukan maka langkah yang paling tepat untuk dilakukan adalah setiap produsen mobil yang membuat mobil tidaklah boleh menyediakan fitur audio tersebut. Jika itu tetap dilakukan maka itu sama halnya dengan mendukung orang-orang untuk melanggar aturan.

Tidak mungkin bukan sesuatu dibuat atau disediakan tapi kita tidak bisa memanfaatkannya. Ya salah satunya adalah fitur audio mobil tersebut. Contohnya seperti aturan kendaraan roda dua yang kini wajib menyalakan lampu utama baik pada kondisi malam ataupun siang. Dan saat ini para produsen sedepa motor telah membuat fitur yang membuat lampu motor tidak dapat dimatikan alias akan selalu menyala ketika kendaraan beroperasi.

Ini mungkin bisa menjadi salah satu faktor pendorong untuk menetapkan aturan mendengarkan musik saat berkendara itu dilarang. Tapi kita juga masih belum tau dampak panjang apa yang bisa terjadi jika fitur audio pada sebuah kendaraan dihilangkan. Entah mungkin penjualan mobil jadi menurun atau mungkin juga mengendari kendaraan roda empat akan menjadi suatu hal yang sangat membosankan.

Mungkin menurut pendapat orang akan berbeda-beda, entah mungkin pendapat yang mendukung atau juga pendapat yang menolak. Semua dipengaruhi oleh cara dari masing – masing orang dalam memandang persoalan tersebut. Lalu bagaimana menurut pendapat anda mengenai aturan ini?